Anggota Komisi V DPR RI Yuliansyah mengimbau Pemerintah Daerah (Pemda) Kalimantan Barat beserta seluruh pemangku kepentingan terus memperkuat sinergi dalam menangani ancaman krisis air bersih akibat fenomena El Nino.
Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau di wilayah Kalimantan Barat berpotensi berlangsung hingga awal November 2026.
“Dengan situasi El Nino saat ini, di mana kemarau menurut perkiraan BMKG bisa terjadi sampai awal November, kita mengimbau pemerintah daerah untuk mencarikan solusi-solusi untuk masyarakat,” kata Yuliansyah dalam keterangannya, Jakarta, Selasa, 25 Agustus 2026.
Dia mengatakan bahwa penanganan krisis air memerlukan kolaborasi lintas instansi. Dari sisi teknis meteorologi, BMKG telah melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau penyemaian hujan buatan, namun keberhasilannya sangat bergantung pada kondisi atmosfer.
“BMKG sudah melakukan OMC, tapi itu juga tergantung benih-benih awan yang ada. Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Kalbar bersama stakeholder terkait untuk membantu warga yang terdampak kekurangan air bersih,” katanya.
Legislator dari Fraksi Partai Gerindra ini menegaskan bahwa Komisi V DPR RI berkomitmen untuk terus mengawal penanganan dampak kemarau panjang melalui fungsi pengawasan dan anggaran yang melekat pada lembaga legislatif.
“Kita pasti bersinergi dengan pemerintah daerah bagaimana untuk mengatasi dampak ini. Salah satunya BMKG yang melakukan OMC, kemudian kita membantu masyarakat yang terdampak melalui program penyediaan sumur bor,” tegasnya.

