Close Menu
WikiParlemen
  • Home
  • MPR
  • DPR
  • DPD
  • Daerah
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Polhukam
Populer

Astra Kembangkan Potensi Desa Kanreapia Hingga Menjadi Sentra Sayuran

27 Juli 2026

BNI Tanam 258.000 Mangrove, Perkuat Konservasi dan Ekonomi Masyarakat Pesisir

26 Juli 2026

BNI Jelaskan Kronologi Viral Siswa Sakit Datangi Bank untuk Aktivasi Rekening PIP

24 Juli 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Astra Kembangkan Potensi Desa Kanreapia Hingga Menjadi Sentra Sayuran
  • BNI Tanam 258.000 Mangrove, Perkuat Konservasi dan Ekonomi Masyarakat Pesisir
  • BNI Jelaskan Kronologi Viral Siswa Sakit Datangi Bank untuk Aktivasi Rekening PIP
  • BNI Dukung Fajar/Fikri Jaga Tren Positif di China Open 2026
  • BNI Perkuat Pencegahan Stunting Lewat Program Gizi dan Edukasi Keluarga
  • BNI Dukung Festival Seni MSI 2026 untuk Perkuat Ekonomi Kreatif dan UMKM
  • BNI Sabet Dua Penghargaan Internasional untuk Layanan UMKM dan Trade Finance
  • BNI Raih Enam Penghargaan Internasional Digital CX Awards 2026
Sabtu, Agustus 15
WikiParlemenWikiParlemen
  • Home
  • MPR
  • DPR
  • DPD
  • Daerah
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Polhukam
Login
WikiParlemen
Beranda » Jalal Abdul Nasir Ingatkan Dampak Dinamika Geopolitik Timur Tengah

Jalal Abdul Nasir Ingatkan Dampak Dinamika Geopolitik Timur Tengah

redaksiBy redaksi14 Maret 2026Updated:8 April 2026 DPR Tidak ada komentar3 Mins Read
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Anggota Komisi XII DPR RI Jalal Abdul Nasir mengingatkan dinamika politik yang melibatkan negara-negara kawasan Teluk berpotensi memengaruhi ketahanan energi nasional, stabilitas fiskal negara, serta daya beli masyarakat.

“Situasi geopolitik di Timur Tengah tidak boleh dipandang sebagai isu yang jauh dari kepentingan Indonesia. Dampaknya dapat langsung dirasakan pada sektor energi dan ekonomi nasional,” kata Jalal dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Sabtu, 13 Maret 2026.

Dia mengatakan ketergantungan Indonesia terhadap impor energi masih cukup tinggi. Konsumsi minyak nasional berada pada kisaran 1,5 hingga 1,6 juta barel per hari, sementara produksi domestik masih sekitar 600 ribu barel per hari.

“Artinya, lebih dari 60 persen kebutuhan minyak nasional masih dipenuhi melalui impor, baik dalam bentuk minyak mentah maupun BBM jadi. Kondisi ini membuat Indonesia cukup sensitif terhadap gejolak harga energi global,” ucapnya.

Gangguan distribusi energi dunia juga dipahami dapat terjadi ketika jalur perdagangan minyak internasional mengalami ketegangan. Salah satu jalur paling strategis yang sering menjadi perhatian global adalah Selat Hormuz.

“Sekitar 20 hingga 30 persen perdagangan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Apabila terjadi gangguan distribusi di kawasan tersebut, harga minyak global hampir pasti terdorong naik,” katanya.

Menurutnya, dampal kenaikan harga minyak dunia diketahui dapat memengaruhi kondisi fiskal Indonesia. Dalam struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, sektor energi masih menjadi komponen yang cukup sensitif terhadap perubahan harga minyak.

“Setiap kenaikan sekitar USD10 per barel berpotensi meningkatkan beban subsidi dan kompensasi energi hingga triliunan rupiah. Pola ini sudah beberapa kali terjadi ketika eskalasi geopolitik meningkat,” kata Jalal.

Selain berdampak pada fiskal negara, dinamika global juga dapat memengaruhi stabilitas pasar keuangan. Perubahan sentimen global sering mendorong arus modal keluar dari negara berkembang.

“Dalam situasi seperti ini, koordinasi kebijakan antara pemerintah dan Bank Indonesia menjadi sangat penting agar inflasi tetap berada dalam target” ucapnya.

Legislator dari Fraksi PKS ini menyebut kenaikan harga energi juga dipahami dapat memberikan efek berantai terhadap sektor lain. Biaya logistik, harga pangan, tarif transportasi, serta biaya produksi industri berpotensi meningkat apabila volatilitas energi tidak diantisipasi dengan baik.

“Jika tekanan energi tidak diantisipasi secara matang, daya beli masyarakat bisa ikut tergerus. Karena itu, langkah antisipatif harus disiapkan sejak awal,” tegas Jalal.

Dia juga menilai momentum dinamika global tersebut dapat menjadi peluang untuk memperkuat fondasi energi nasional. Berbagai langkah strategis dipandang penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.

“Indonesia perlu mempercepat peningkatan lifting migas nasional, memperkuat cadangan energi strategis, memperluas pengembangan energi baru terbarukan, serta memastikan subsidi energi semakin tepat sasaran,” ujar Jalal.

Dia mengungkapkan ketahanan energi pada akhirnya dipahami tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan pasokan. Tata kelola yang kuat serta arah kebijakan yang berkelanjutan dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas nasional.

“Ketahanan energi adalah bagian dari ketahanan nasional. Dengan langkah strategis dan berbasis data, Indonesia dapat memperkuat kedaulatan energi sekaligus menjaga stabilitas ekonomi,” tegas Jalal.

DPR
redaksi

Keep Reading

BGN Harus Maksimalkan Penyerapan Hasil Petani dan UMKM untuk MBG

Komisi I DPR Serahkan DIM RUU Keamanan dan Ketahanan Siber ke Pemerintah

Ketua DPR Sampaikan Simpati Atas Bencana Gempa Dahsyat di Tiga Negara

Banyak Manajer Kopdem Meninggal, DPR Soroti Kegagalan Deteksi Kesehatan Peserta SPPI

Calon Manajer Kopdes Meninggal saat Latsarmil, Oleh Soleh: Ini Masalah Serius

Tiga Peserta SPPI KDMP Meninggal, Komisi I DPR Minta Evaluasi

Berita Terkini

Astra Kembangkan Potensi Desa Kanreapia Hingga Menjadi Sentra Sayuran

27 Juli 2026

BNI Tanam 258.000 Mangrove, Perkuat Konservasi dan Ekonomi Masyarakat Pesisir

26 Juli 2026

BNI Jelaskan Kronologi Viral Siswa Sakit Datangi Bank untuk Aktivasi Rekening PIP

24 Juli 2026

BNI Dukung Fajar/Fikri Jaga Tren Positif di China Open 2026

23 Juli 2026
Kebijakan JP Moso
© WikiParlemen 2024. Web Design by Aconymous
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?