Delegasi Sidang ke-2 IPPP, Gloria Guttenbeil Pole’o dari Parlemen Tonga memuji kepiawaian Puan Maharani sebagai Ketua DPR RI yang mampu menjalankan perannya dalam dunia politik.
Terlebih, saat membuka Sidang ke-2 IPPP kemarin, Puan menyinggung soal isu pemberdayaan perempuan guna pembangunan inklusif di Pasifik. Puan menilai hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan partisipasi perempuan di dunia politik, dan untuk memegang jabatan publik.
“Saya rasa itu hal yang tepat dibicarakan oleh seorang perempuan di parlemen karena di negara asal kami keterlibatan perempuan di parlemen tidak begitu banyak,” kata Gloria di lokasi acara, di Jakarta, Jumat (26/7/2024).
Parlemen Tonga sendiri disebut hanya memiliki satu anggota perempuan. Gloria mengatakan, mendengar pesan Puan terkait kesetaraan gender di bidang politik telah membuat semangat untuk para perempuan berpartisipasi dalam dunia politik.
“Beliau menjadi inspirasi karena bisa menjadi pemimpin nasional. Para pemimpin perempuan seperti Madam Puan memberikan kontribusi yang lebih baik kepada masyarakat dalam hal sosial ekonomi dan isu-isu lain yang berdampak,” paparnya.
“Itu bisa membuka harapan kami untuk menjadi petugas masa depan. Kami melihat beliau sebagai Ketua DPR memberikan inspirasi bagi banyak perempuan agar bisa menjadi seperti beliau,” imbuh Gloria.
Pesan-pesan yang disampaikan Puan pada Sidang ke-2 IPPP pun disebut telah membuat parlemen negara-negara Pasifik belajar tentang tantangan yang dihadapi dunia saat ini. Gloria mengatakan, isu-isu yang diangkat Puan memang seperti yang terjadi di kawasan Pasifik.
“Isu itu membuat pandangan kami terbuka dan itu mirip dengan apa yang terjadi dengan kami sehingga kami dapat belajar dan saling membantu satu sama lain untuk mengatasi tantangan tersebut,” ungkapnya.
Dalam beberapa kesempatan di Sidang ke-2 IPPP, Puan menyatakan Indonesia dan negara-negara Pasifik memiliki kesamaan sebagai negara kepulauan yang dikelilingi perairan dan lautan, termasuk kesamaan nilai-nilai.
Sebagai negara kepulauan, Indonesia dan negara-negara Pasifik dinilai menghadapi tantangan yang sama seperti ancaman perubahan iklim, terjadinya bencana, dan tantangan dalam pengelolaan laut serta perairan.
Kesamaan tersebut, kata Puan, dapat menjadi modal untuk pengembangan hubungan lebih baik di masa mendatang dengan fokus bekerja sama pada isu-isu yang menjadi kepentingan bersama.
Gloria pun menganggap perhelatan Sidang IPPP menjadi pengalaman luar biasa bagi Tonga karena dapat membuka sudut pandang yang lebih komprehensif terhadap berbagai tantangan dunia.
“Kami dapat menjadikan Indonesia sebagai partner, bukan hanya dari segi pembangunan nasional tapi juga dari banyaknya demografi Indonesia,” tutur Gloria.
Adapun Sidang IPPP merupakan inisiatif DPR untuk memperkuat kemitraan di kawasan Pasifik di mana pertemuan pertama digelar pada tahun 2018 lalu. Gloria menyatakan Tonga belajar banyak dari perhelatan ini.
“Saya rasa acara ini membuka wawasan kami sebagai negara kecil di Pasifik, karena menurut kami Indonesia merupakan negara yang besar dengan penduduk yang banyak, kami tidak ada apa-apanya dengan Indonesia,” sebutnya.

