Ketua Komisi XII DPR RI, Sugeng Suparwoto, mengatakan kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia mempertegas komitmen dalam melanjutkan pembangunan Grass Root Refinery and Petrochemical (GRR&P) Tuban, Jawa Timur.
Menurutnya, proyek kerja sama antara PT Pertamina dan perusahaan minyak asal Rusia, Rosneft itu diyakini sangat strategis karena tidak hanya memproduksi bahan bakar minyak, tetapi juga membangun industri petrokimia nasional yang dikelola negara.
“GRR Tuban sangat penting bagi Indonesia. Ini bukan sekadar membangun kilang minyak, tapi sekaligus membentuk petrochemical industry complex milik bangsa sendiri,” kata Sugeng, dalam keterangan persnya, dikutip Minggu, 13 Juli 2025.
Di samping itu, GRR&P juga masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) sejak 2017. Namun, sempat terkendala akibat dinamika geopolitik global, terutama sejak pecahnya perang antara Rusia dan Ukraina.
Situasi tersebut berdampak pada lalu lintas pembiayaan karena Rusia terkena embargo, padahal nilai investasi proyek ini mencapai sekitar 20 miliar dolar AS. Meski demikian, Rosneft tidak pernah menarik diri dari proyek ini.
Bahkan, kata Sugeng, komitmen kerja sama antara kedua negara juga semakin diperkuat pasca kunjungan Presiden Prabowo dan pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
“Proyek ini tidak hanya akan memproduksi BBM hingga 300 ribu barel per hari, tetapi juga menghasilkan produk petrokimia hingga 4,5 juta ton per tahun. Ini penting karena saat ini kita masih impor 64 persen kebutuhan petrokimia nasional,” ungkapnya.
Pihaknya pun mengatakan kehadiran kilang GRR Tuban akan mengurangi ketergantungan impor sekaligus memperkuat struktur industri nasional. Pasalnya, Indonesia saat ini mengeluarkan lebih dari 9 miliar dolar AS setiap tahun hanya untuk impor bahan baku petrokimia, seperti plastik, PVC, dan serat sintetis.