Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi PKS, Amin Ak, mengatakan kebijakan tarif impor yang dikenakan Amerika Serikat (AS) sebesar 32 persen, akan berdampak serius pada berbagai sektor ekonomi Indonesia.
“Dampak paling mengkhawatirkan adalah ancaman terhadap 800.000 lapangan pekerjaan di industri tekstil, alas kaki, elektronik, dan kelapa sawit,” kata Amin, dalam keterangan persnya, Jumat, 11 Juli 2025.
Padahal, selama ini neraca perdagangan Indonesia-AS menunjukkan surplus yang cukup besar, mencapai USD 16 miliar pada tahun 2024.
“Ini bukan sekadar persoalan angka, tetapi menyangkut hajat hidup jutaan pekerja dan keluarganya,” ungkapnya.
Oleh sebab itu, pihaknya mengusulkan langkah-langkah konkret. Dalam jangka pendek, Amin meminta pemerintah segera melakukan diversifikasi pasar ekspor ke kawasan Uni Eropa dan Asia Tengah, serta memberikan insentif fiskal temporer bagi industri yang terdampak.
“Idealnya kita tidak boleh terus bergantung pada satu pasar. Diversifikasi adalah kunci ketahanan ekonomi,” jelasnya.
Dalam jangka menengah, penguatan industri hilir harus menjadi prioritas agar Indonesia tidak hanya menjadi pengekspor bahan mentah.
Kementerian Perdagangan, Kementerian Luar Negeri, dan BUMN juga harus meningkatkan koordinasi guna menciptakan sinergi kebijakan.
Sedangkan dalam jangka panjang, Amin Ak menekankan perlunya revisi terhadap kerangka hukum perdagangan internasional Indonesia.
“Kita butuh sistem yang lebih tangguh, termasuk early warning system untuk mengantisipasi berbagai kebijakan proteksionisme dari negara lain,” paparnya.