Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah, mengatakan pengenaan tarif impor oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, akan membahayakan masa depan perekonomian global.
Pasalnya, banyak negara akan menempuh jalan proteksionisme, dan hal itu tidak menguntungkan bagi kerja sama global dan kemakmuran bersama.
Merespons kebijakan tersebut, pihaknya memaparkan sejumlah langkah yang harus ditempuh pemerintah, salah satunya adalah membuka kembali jalan negosiasi dengan Pemerintah AS.
“Tentu saja pemerintah harus membawa bekal yang lebih menjanjikan dalam proses negosiasi tersebut,” kata Said, dalam keterangan persnya, Kamis, 10 Juli 2025.
“Seperti poin yang ditekankan, yakni memungkinkan adanya perusahaan Indonesia melakukan aktivitas manufacturing di AS, selain tawaran untuk menurunkan tingkat defisitnya AS dalam perdagangan dengan Indonesia,” imbuhnya.
Pihaknya juga meminta pemerintah untuk sesegera mungkin mengupayakan pasar pengganti terhadap beberapa barang ekspor ke AS, seperti BRICS, Eropa, kawasan Amerika Latin serta Afrika perlu didalami.
“Produk-produk Indonesia seperti; tekstil, pakai jadi, alat kaki, peralatan listrik, karet, dan produk karet, alat penerangan, ikan, udang, kakao, dan mesin banyak diminati di pasar AS. Hendaknya pemerintah memiliki banyak opsi jika tarif 32 persen tetap diberlakukan,” ungkapnya.