Close Menu
WikiParlemen
  • Home
  • MPR
  • DPR
  • DPD
  • Daerah
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Polhukam
Populer

Beli Tiket Konser Sammy Simorangkir via wondr by BNI Diskon 20 Persen

12 Mei 2026

BNI, KIP, dan IPB Kolaborasi Perkuat Literasi Keterbukaan Informasi Mahasiswa

11 Mei 2026

Strategi Berbasis Data Antarkan BNI Raih Pengakuan Internasional di LinkedIn Talent Awards 2025

11 Mei 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Beli Tiket Konser Sammy Simorangkir via wondr by BNI Diskon 20 Persen
  • BNI, KIP, dan IPB Kolaborasi Perkuat Literasi Keterbukaan Informasi Mahasiswa
  • Strategi Berbasis Data Antarkan BNI Raih Pengakuan Internasional di LinkedIn Talent Awards 2025
  • Novita Hardini Luncurkan Buku “Bising dan Hening” di Hari Kartini
  • Sambangi Gudang Bulog Cilacap, Novita Wijayanti Pastikan Stok Beras Masyarakat Aman
  • Komisi X DPR Desak Dosen PTN di Daycare DIY Dinonaktifkan
  • Pimpinan DPR Prihatin Atas Insiden Kecelakaan KRL di Bekasi
  • DPR Soroti Wacana Pemerintah Tutup Program Studi di Perguruan Tinggi
Rabu, Mei 13
WikiParlemenWikiParlemen
  • Home
  • MPR
  • DPR
  • DPD
  • Daerah
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Polhukam
Login
WikiParlemen
Beranda » Fahmi Alaydroes Kecewa Pelaku Bullying Dapat Backingan Aparat

Fahmi Alaydroes Kecewa Pelaku Bullying Dapat Backingan Aparat

redaksiBy redaksi28 Maret 2024Updated:2 April 2024 DPR Tidak ada komentar3 Mins Read
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Anggota Komisi X DPR RI Fahmi Alaydroes kecewa terhadap pelaku bullying (perundungan) yang mengangkangi hukum karena punya backingan oknum aparat.

Kasus kekerasan seperti perundungan di lingkungan satuan pendidikan telah menjadi sorotan utama, dengan insiden-insiden yang semakin sering terjadi.

Salah satu prioritas utama negara yang berlandaskan hukum tercermin dari perlindungannya terhadap semua warga negara, termasuk anak-anak.

Namun, ketika kasus perundungan diabaikan atau tidak ditangani secara serius, itu menandakan kegagalan sistem dalam melindungi warga negaranya.

“Rusaknya negeri, kalau ada oknum-oknum tertentu yang kemudian dalam tanda petik mengangkangi hukum. Negeri kita negeri hukum dan negara harus melindungi semua warga. Ketika bicara korban, korban ini kan anak-anak kita, korban ini kan warga negara kita. Tidak boleh kemudian diabaikan dengan negara atau kita membiarkan ada pihak-pihak tertentu yang kemudian mencoba untuk memperalat pihak-pihak tertentu agar kasus ini tidak berlanjut,” ujar Fahmi usai ditemui usai Kunjungan Kerja Spesifik Komisi X DPR ke Pemkab Bekasi, Jawa Barat, pada Selasa (26/3/2024).

“Ketika bicara korban, korban ini kan anak-anak kita, korban ini kan warga negara kita.” kata dia.

Fahmi Alaydroes juga menegaskan pentingnya penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku perundungan, namun juga menyoroti pentingnya pendidikan karakter dalam mencegah kasus-kasus semacam itu.

Dia menekankan bahwa kelemahan dalam pendidikan karakter merupakan akar dari masalah ini. Jika pendidikan karakter lebih diperhatikan dan ditekankan dalam sistem pendidikan nasional, kemungkinan kasus-kasus perundungan dapat diminimalisir.

“Jadi, esensinya adalah tegakan hukum, tapi sebelum tegakan hukum itu tadi yang kembali kepada persoalan pendidikan. Jadi, persoalan utama di pendidikan nasional kita adalah pendidikan karakter yang sangat lemah. Kalau pendidikan karakter kita kuat, maka kasus-kasus perundungan ini akan sirna,” ungkapnya.

Namun, fenomena yang semakin mengkhawatirkan adalah bahwa tidak semua kasus perundungan mendapatkan perhatian yang layak, terutama jika tidak menjadi viral di media sosial.

Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa keadilan tidak selalu ditegakkan, terutama ketika pelaku memiliki kekuasaan atau hubungan yang kuat dengan institusi-institusi penegak hukum.

“Jadi ketika ada fenomena no-viral no-justice atau warga negara kemudian mengadu kepada masyarakat melalui media sosial, itu menjadi peringatan, menjadi sinyal bahwa aparat negara itu lemah atau tidak dipercaya oleh masyarakat. Ini kan indikasi negara yang gagal, bagaimana kalau kemudian warga negara tidak lari kepada aparat, tidak berlindung kepada pemerintah, tapi mereka berlindung atau mencari keadilan kepada masyarakat dalam kaitannya hal ini yaitu netizen. Menurut saya ini pukulan yang sangat memperhatinkan untuk praktek berbangsa dan bernegara. Kita harus perbaiki, terutama saya mendorong dengan tegas pemerintah yang terlibat untuk bertindak secara adil,” tandas Legislator PKS tersebut.

Sebagai negara yang berlandaskan pada hukum, upaya untuk menegakkan keadilan haruslah menjadi prioritas, terutama dalam melindungi anak-anak sebagai generasi penerus bangsa.

Dengan menggabungkan penegakan hukum yang kuat dengan pendidikan karakter yang kokoh, diharapkan dapat membangun penerus bangsa yang bijak dan berkeadilan.

DPR
redaksi

Keep Reading

Novita Hardini Luncurkan Buku “Bising dan Hening” di Hari Kartini

Sambangi Gudang Bulog Cilacap, Novita Wijayanti Pastikan Stok Beras Masyarakat Aman

Komisi X DPR Desak Dosen PTN di Daycare DIY Dinonaktifkan

Pimpinan DPR Prihatin Atas Insiden Kecelakaan KRL di Bekasi

DPR Soroti Wacana Pemerintah Tutup Program Studi di Perguruan Tinggi

Penguatan Ketahanan Pangan Jadi Faktor Penting Jaga Stabilitas Ekonomi

Berita Terkini

Beli Tiket Konser Sammy Simorangkir via wondr by BNI Diskon 20 Persen

12 Mei 2026

BNI, KIP, dan IPB Kolaborasi Perkuat Literasi Keterbukaan Informasi Mahasiswa

11 Mei 2026

Strategi Berbasis Data Antarkan BNI Raih Pengakuan Internasional di LinkedIn Talent Awards 2025

11 Mei 2026

Novita Hardini Luncurkan Buku “Bising dan Hening” di Hari Kartini

11 Mei 2026
Kebijakan JP Moso
© WikiParlemen 2024. Web Design by Aconymous
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?