Close Menu
WikiParlemen
  • Home
  • MPR
  • DPR
  • DPD
  • Daerah
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Polhukam
Populer

BNI Integrasikan Layanan Joumpa di wondr, Permudah Perjalanan Nasabah

2 Oktober 2026

BNI Dorong Pelestarian Batik Lewat Pemberdayaan UMKM

2 Oktober 2026

BNI Apresiasi Tim Bulu Tangkis Indonesia Raih Enam Medali di Asian Games 2026

30 September 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • BNI Integrasikan Layanan Joumpa di wondr, Permudah Perjalanan Nasabah
  • BNI Dorong Pelestarian Batik Lewat Pemberdayaan UMKM
  • BNI Apresiasi Tim Bulu Tangkis Indonesia Raih Enam Medali di Asian Games 2026
  • BNI Hadirkan Edukasi dan Inspirasi bagi Siswa Sekolah Rakyat di Sulsel
  • BNI Perkuat Dukungan Sekolah Rakyat Lewat Program Edukasi di Sulsel
  • KUHP dan KUHAP Baru Harus Terimplementasikan di Masyarakat
  • Akurasi DTSEN Menentukan Ketepatan Kebijakan dan Bantuan
  • DPR Perkuat Pencegahan Penyalahgunaan Kewenangan dalam RUU Perampasan Aset
Sabtu, Oktober 3
WikiParlemenWikiParlemen
  • Home
  • MPR
  • DPR
  • DPD
  • Daerah
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Polhukam
Login
WikiParlemen
Beranda » Kinerja Impresif APBN Penting Untuk Pemulihan Ekonomi Nasional

Kinerja Impresif APBN Penting Untuk Pemulihan Ekonomi Nasional

redaksiBy redaksi19 Januari 2023Updated:30 Januari 2023 Nasional Tidak ada komentar3 Mins Read
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan, kinerja impresif APBN sebagai shock absorber, menjadi instrumen penting melindungi rakyat dalam mendorong pemulihan ekonomi nasional.

Kinerja impresif APBN 2022 terlihat dalam defisit pada angka 2,38% dari target sebesar 4,5% serta pendapatan negara sebesar 115,9% dari target atau tumbuh 30,6%.

Kemudian untuk tahun  2023, Menko Airlangga mengingatkan APBN masih sebagai shock absorber untuk menjaga momentum pemulihan.

Salah satunya, dia meminta para kepala daerah dapat mengoptimalisasi belanja pusat dan daerah untuk peningkatan penggunaan produksi dalam negeri (P3DN) yang menjadi faktor penting dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi.

“Dan, di tahun 2023 walaupun sepertiga ekonomi dunia mengalami persoalan atau krisis, Indonesia dikatakan masih cukup optimis dengan pertumbuhan, diharapkan bisa di kisaran 4,7-5,3%,” kata Menko Airlangga yang juga Ketua Umum Partai Golkar ini.

Pengamat ekonomi dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti, mendorong pemerintah untuk memiliki belanja yang efisien dan tepat sasaran.

“Seringkali program antar kementerian tumpang tindih, Program pusat daerah juga double – double. Oleh karena itu anggaran belanja selain tidak efisien juga tidak tepat sasaran,” tegas Esther, Rabu (18/1/2023).

Selain itu, ada kendala dari pencairan dana pusat ke daerah. Hal ini karena pencairan APBN selalu terlambat karena birokrasinya relatif kompleks.

“Jadi jika pemerintah mendorong belanja fiskal yang sehat sejak awal, maka kendala tersebut harus dapat diatasi,” jelas Esther.

Dia menyarankan pemerintah memberikan target yang terukur seperti Key Performence Indeks (KPI).

“Seharusnya dikaitkan dengan target KPI setiap instansi misalnya tingkat kemiskinan 7%, tingkat pengangguran berkurang, penyerapan tenaga kerja 4 juta per tahun, dan seterusnya,” ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Center For Budget Analysis (CBA) Uchok Sky Khadafi menilai APBN belum mampu memulihkan ekonomi. Menurutnya, sebaran APBN harus merata jika pemerintah benar-benar ingin memulihkan ekonomi nasional.

Di sisi lain, sebagai shock absorber, pendapatan APBN dari pajak juga tidak boleh membebani rakyat. Pasalnya, APBN tahun ini sangat membebani rakyat dengan pengenaan pajak yang mencapai 70% dari total penerimaan negara. Menurutnya, ada kekurangan dengan pendapatan Rp2.463 triliun, namun belanja sebesar Rp3.061 triliun.

“APBN tidak rasional, karena mereka tahu, susah mencari dana segar untuk percepat pemulihan ekonomi,” jelasnya.

Belanja Negara secara nasional dalam APBN tahun 2023 disepakati sebesar Rp3.061,2 triliun, yang dialokasikan melalui Belanja Pemerintah Pusat sebesar Rp2.246,5 triliun.

Menurut Uchok, pemulihan ekonomi akan bisa terlaksana jika anggaran tidak terpusat di pusat, tetapi merata ke daerah.

Pasalnya, struktur APBN dari segi pemerataan belanja Rp814.718,5 triliun yang dikirim ke daerah, sisanya Rp1.648.306,4 triliun dibelanjakan oleh pemerintah pusat.

“Pola ini mencerminkan tidak adanya kepercayaan pemerintah pusat pada pemerintah daerah. Sehingga sekitar 66% uang berputar di Jakarta yang penduduknya 11 juta dan 33 % untuk daerah yang memiliki penduduk 265 juta jiwa,” pungkasnya.

Airlangga Hartarto
redaksi

Keep Reading

BNI Dorong Pelestarian Batik Lewat Pemberdayaan UMKM

BNI Hadirkan Edukasi dan Inspirasi bagi Siswa Sekolah Rakyat di Sulsel

BNI Perkuat Dukungan Sekolah Rakyat Lewat Program Edukasi di Sulsel

Astra Half Marathon 2026 Dibuka, Targetkan 6.000 Pelari

Masuk BNI WondrX Gratis, Nasabah Bisa Ikut Lelang Rejeki Wondr Setiap Hari

BNI Hadirkan wondrZ, Tabungan Anak dan Remaja untuk Belajar Kelola Keuangan Sejak Dini

Berita Terkini

BNI Integrasikan Layanan Joumpa di wondr, Permudah Perjalanan Nasabah

2 Oktober 2026

BNI Dorong Pelestarian Batik Lewat Pemberdayaan UMKM

2 Oktober 2026

BNI Apresiasi Tim Bulu Tangkis Indonesia Raih Enam Medali di Asian Games 2026

30 September 2026

BNI Hadirkan Edukasi dan Inspirasi bagi Siswa Sekolah Rakyat di Sulsel

26 September 2026
Kebijakan JP Moso
© WikiParlemen 2024. Web Design by Aconymous
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?