Edy Wuryanto, memberikan apresiasi atas kemajuan pesat yang dicapai oleh rumah sakit vertikal di Indonesia, salah satunya adalah Rumah Sakit Karyadi. Meskipun demikian, ia menyoroti sejumlah isu penting terkait rumah sakit vertikal di Indonesia, khususnya dalam hal daya saing layanan manajemen kesehatan dan standar pendidikan spesialis.
Hal itu disampaikan Edy dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IX DPR RI dengan Sekjen Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Dirjen Kesehatan Lanjutan Kemenkes, dan Direktur Utama Rumah Sakit Vertikal Kementerian Kesehatan RI di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Rabu (13/11/2024).
Berdasarkan laporan yang diterimanya, ketimpangan distribusi tenaga medis, terutama dokter spesialis menjadi salah satu tantangan besar dalam sistem kesehatan Indonesia.
Ia menekankan bahwa jika masalah ini tidak segera diatasi, masyarakat di daerah terpencil atau luar Jawa akan kesulitan mengakses layanan kesehatan yang berkualitas. Banyak warga harus datang ke kota besar, seperti Jakarta, untuk mendapatkan perawatan yang tepat.
“Jangan sampai seluruh pasien hanya bisa berobat di rumah sakit vertikal yang ada di Jawa. Banyak masyarakat di daerah lain, bahkan pelosok tanah air, yang membutuhkan akses kesehatan, namun mereka terpinggirkan karena rumah sakit yang bisa menangani penyakit mereka hanya ada di Jawa,” ungkap Legislator Fraksi PDI Perjuangan itu.
Selain itu, Edy juga mengungkapkan kekhawatirannya mengenai adanya persaingan tidak sehat antara pendidikan spesialis berbasis rumah sakit dan universitas. Menurutnya, jika ketimpangan ini tidak segera ditangani, kualitas layanan manajemen kesehatan di masa depan bisa menurun.
“Saya khawatir ada perbedaan standar dalam input, proses, output, dan hasil pendidikan antara yang berbasis rumah sakit dan yang berbasis universitas. Hal ini bisa berdampak pada kualitas pelayanan kesehatan, dan tentu saja akan berpengaruh pada masyarakat,” tegasnya.
Untuk itu, Edy mengingatkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) agar segera merumuskan regulasi yang dapat menyeragamkan perlakukan dan standar pendidikan spesialis, baik yang berbasis universitas maupun rumah sakit. Ia menegaskan, perbedaan yang ada harus dihindari agar tidak terjadi ketidakadilan dalam pelayanan manajemen kesehatan rumah sakit di seluruh Indonesia.
Di sisi lain, Edy menegaskan bahwa rumah sakit vertikal tidak hanya memiliki peran dalam memberikan pelayanan kesehatan, tetapi juga harus berperan dalam pendidikan tenaga medis. Integrasi antara pendidikan dan pelayanan di rumah sakit harus berjalan seiring untuk memastikan kualitas pelayanan dan pendidikan yang seimbang.

