Site icon WikiParlemen

Amin AK Soroti Dampak Melemahnya Nilai Tukar Rupiah

Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PKS, Amin Ak, menyoroti melemahnya nilai tukar rupiah yang dalam beberapa hari terakhir bergerak di kisaran Rp17.800–Rp17.900 per dolar Amerika Serikat (AS).

Menurutnya, tekanan terhadap rupiah tidak boleh hanya dilihat sebagai angka di pasar valuta asing karena berdampak langsung terhadap biaya produksi, harga barang, dan daya beli masyarakat.

“Rupiah yang terus tertekan ini menambah beban di tengah upaya masyarakat memulihkan daya beli,” kata Amin, dalam keterangan persnya, dikutip Jumat, 25 September 2026.

“Ketika kurs melemah, harga bahan baku impor naik, biaya produksi industri membengkak, dan pada akhirnya rakyat kecil serta pelaku UMKM yang paling merasakan dampaknya melalui kenaikan harga barang kebutuhan sehari-hari,” imbuhnya.

Ia pun mengingatkan bahwa pelemahan rupiah dapat merambat melalui kenaikan harga barang impor dan bahan baku, kemudian meningkatkan biaya produksi industri dan UMKM.

Akibatnya, pelaku usaha yang memiliki ruang terbatas untuk menyerap kenaikan biaya dapat terpaksa menaikkan harga, mengurangi margin, atau menekan produksi.

“Karena itu, stabilitas nilai tukar harus ditempatkan sebagai bagian dari agenda menjaga daya beli dan pertumbuhan ekonomi, bukan semata-mata stabilitas sektor keuangan,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, pihaknya meminta agar pemerintah dan BI memperkuat koordinasi komunikasi kebijakan, khususnya mengenai arah fiskal, moneter, pembiayaan APBN, pengelolaan utang, dan strategi menghadapi tekanan eksternal.

“Yang dibutuhkan pasar sekarang bukan pernyataan yang saling bersahutan, tetapi satu narasi kebijakan yang jelas. Pemerintah dan BI harus berbicara dalam bahasa yang sama mengenai stabilitas, pertumbuhan, inflasi, fiskal, dan nilai tukar,” tuturnya.

Exit mobile version